21
Aug
10

Berbagi kesempatan

Tadi pagi gw ngetwit sebuah pertanyaan sebagai berikut:

”Apakah ketulusan itu memang masih ada? Tidak menilai orang lain berdasarkan standar materi, penampakan fisik & latar belakang status sosial.”

Betapa sering kita temui sebagian orang yang menilai sebagian yang lain secara subyektif. Bahkan gw sendiri sering terjebak dalam subyektifitas itu. Menilai orang berdasarkan ukuran pangkat, jabatan, kekayaan, etnis, suku, agama, atau minimal dari kecantikan/kegantengan rupa orang lain.

Sah-sah saja sih, selama masih dalam batasan tertentu. Masalahnya lebih banyak kasus yang melebihi batas. Kalo hanya sekedar: ‘oke dia cantik’, atau ‘oh dia non-muslim’, atau ‘wah mobilnya bagus!’ Masih wajar. Yang ga wajar itu kalo penilaian2 tersebut kemudian mendasari cara kita dalam berinteraksi.

Seperti halnya kebutuhan untuk makan, tiap individu juga butuh ‘diterima’ oleh individu yang lain dengan utuh. Kekurangan atas ‘penerimaan’ inilah yang kemudian menjadi penyebab gesekan2 sosial di masyarakat (gampangnya kita sebut sebagai ‘diskriminasi’).

Hubungan antar manusia yang harmonis sulit terwujud bila salah satu mendiskriminasikan atau merasa didiskriminasikan. Rasanya tidak adil mengkotak2kan orang lain. Apalagi untuk alasan yang mereka sendiri tidak punya pilihan atasnya. Berasa nyalahin Allah SWT.

Coba bayangkan, hanya karena berambut keriting atau berkulit gelap anda diusir dari sebuah restoran. Menyakitkan bukan?

Gw sendiri punya beberapa pengalaman pahit terkait efek diskriminasi dan kurangnya penerimaan. Gw pernah menggosok tangan gw dgn batu apung buat cucian piring karena dikatain item dan dekil. Pernah juga harus bayar makanan yg bahkan gw belum lihat bagaimana wujudnya karena pacar gw (waktu itu masih jd pacar) malu ketahuan jalan sama gw. Pernah diusir dari kantin karena gw bukan orang jakarta asli. Pernah dikatain orang udik karena keluarga gw pendatang. Sampai yang paling parah ketombe aneh di kepala gw yg ga bisa sembuh hingga sekarang karena dulu waktu kecil ortu gw ga suka punya anak berambut keriting sehingga mereka memakaikan minyak rambut buat dewasa banyak2 supaya rambut keriting gw kelihatan lurus…

Makin dewasa, gw sadar hal2 diskriminatif itu tidak penting. Allah SWT hanya akan menilai manusia berdasarkan amal ibadah dan perbuatannya..

Disclaimer: tulisan ini ga ada sangkut pautnya sama insiden HKBP di lingkungan tempat tinggal gw. Itu kasus lain dan beda cerita.

Advertisement

0 Responses to “Berbagi kesempatan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Komentar Bebas

Blog Stats

  • 7,205 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.