selasa (17/2) kemarin aku menerima ajakan dari seorang teman mengenai Earth Hour yang digagas oleh WWF. event ini bertujuan untuk mengajak seluruh penduduk dunia untuk berlatih hemat energi dengan cara mematikan semua lampu selama satu jam di hari tertentu (keterangan lebih lanjut silahkan klik disini). event ini mengingatkanku pada event lain yang serupa yaitu Car Free Day.
di Jakarta, Car Free Day dilaksanakan pada hari Ahad di daerah-daerah tertentu. hari pertama pelaksanaannya (27 September 2007 lalu) berbuah kemacetan hebat dijalan-jalan sekitar area Car Free Day. pada saat itu banyak kalangan yang menilai bahwa event ini hanya memindahkan (bahkan menciptakan) kemacetan ke lokasi lain. kondisi Car Free Day saat ini juga tidak menampakkan peningkatan kualitas. bahkan cenderung menurun dan makin menjadi cermin bahwa event ini hanya sebagai ajang seremonial belaka tanpa ada makna maupun manfaat jangka panjang yang bisa diambil. klik disini untuk salah satu kabar terakhir mengenai Car Free Day.
kegiatan penghematan yang berarti banyak misalnya Bike to Work dan program Mass Rapid Transport kurang mendapat perhatian baik dari masyarakat maupun birokrat di negri ini. masyarakat dan para pemimpin negri ini lebih suka membuat seremoni singkat untuk sekedar pamer dibanding suatu kegiatan berkelanjutan yang memiliki manfaat jangka panjang. dari sini aku ragu Earth Hour bisa berarti banyak untuk masyarakat di negri ini. mental “hangat-hangat tahi ayam” begitu mengakar, menciptakan budaya sekedar ikut-ikutan tren.
kalau begini, kapan kita bisa maju?
0 Responses to “habit is more important than ceremonial event”