Archive for November, 2008

30
Nov
08

Bangsa Berbudaya? – Bag.2

pada posting yg lalu gw meng-copy paste sebuah email yg berisi tulisannya andy f. noya. kalo di tulisan itu diberi judul empati, maka waktu gw copy, judulnya gw ganti dengan pertanyaan. judul lengkapnya “(apakah benar kita) bangsa berbudaya?”

setelah membaca tulisan andy f. noya itu, gw jadi malu sendiri. penyebabnya adalah kejadian yang udah lama terjadinya. kira2 8 tahun lalu. waktu bokap baru pulang dari tugas ke jepang yang pertama. jadi ceritanya waktu itu bokap mentraktir gw sama nyokap untuk makan di mcd atrium senen. selesai makan, bokap langsung membersihkan dan membungkus sisa-sisa makanan dgn pembungkusnya trus dikumpulin di satu nampan dan beliau membuang sampah makanan kami tersebut ke tempat sampah yang ada di dalam restoran. reaksi gw sama nyokap pertama kali cuma bengong. waktu bokap selesai, kami langsung protes ke bokap. “ngapain diberesin? kan ada petugasnya? malu-maluin aja!” kami pun keluar restoran tsb dengan tergesa-gesa. bokap ngga komentar apa-apa. sesampainya di rumah bokap cerita kalo hal itu sudah biasa beliau lakukan waktu di jepang. yang ga kepikiran di kepala gw adalah mungkin saja ada pramusaji di restoran itu yang berterimakasih karena tugasnya hari itu agak lebih ringan.

berbuat baik tidak selalu harus dengan tindakan langsung. boleh jadi efek perbuatan tersebut terjadi secara tidak langsung, seperti yg dilakukan bokap gw itu. dengan sebuah perbuatan sederhana seperti itu beliau sudah meringankan beban seseorang.

kadang-kadang gw suka bertanya apakah benar kita ini bangsa berbudaya? ada bermacam kata umpatan yg biasa dilontarkan. bisa jadi, mungkin karena bahasanya juga beda-beda. tapi gw pernah menemui di satu wilayah yg punya beberapa kata umpatan padahal bahasanya sama.

jum’at kemaren gw diwawancara oleh sebuah departemen dalam rangka perekrutan pegawai baru. ada sebuah pertanyaan dari interviewer yg agak susah gw jawab. pertanyaannya itu tentang kebangggaan terhadap indonesia. gw jawab gw bangga sama keadaan di indonesia. tapi waktu ditanya tentang keberagaman dan toleransi umat beragama gw jawab gw ga bangga. di luar sana masih banyak negara yang lebih bisa menghargai agama orang lain. gw dapet kesimpulan itu berdasar sharing pengalaman. gw selalu merasa terdiskriminasikan setiap kali gw jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, mall, tempat wisata, perumahan (yang katanya) elit, bahkan ke beberapa perkantoran. susah banget nyari tempat untuk sholat. kalaupun ada tempat, pasti nyempil di belakang atau di basement paling bawah sebelahan sama toilet. padahal gw tinggal di negara yang mayoritas penduduknya muslim. ada jg kejadian yang melibatkan tetangga gw. kebetulan tetangga gw itu adalah seorang pemuka agama. suatu saat dia mengadakan ibadah di rumahnya. kalo cuma sekali aja ga masalah. ini tiap sabtu-minggu. dia menjadikan rumahnya seperti sebuah rumah ibadah. setiap kali mereka melaksanakan ibadahnya selalu dengan cara menutup jalan sehinga untuk keluar-masuk rumah aja susah. bukannya gw ga toleran, tapi liat-liat lingkungan juga dong. untungnya masalahnya bisa diselesaikan secara baik.

kalau memang kita adalah bangsa berbudaya, mengapa masih banyak dari kita (termasuk gw sendiri-kadang2) yang merasa senang jika ada orang lain yg tertimpa kesulitan karena sesuatu kita perbuat (dan tidak kita perbuat)?

25
Nov
08

Bangsa Berbudaya? – Bag.1

malam ini gw nerima sebuah forward-an email dari seorang teman. isinya sebagai berikut:

EMPATI
By: Andy F Noya

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat
saji
di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah
berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas
karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.

Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran.
Ada
yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan
ada pula
yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.

Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari
ke hari.
Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya
tidak
terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan
tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika
saya terlalu asyik menyantap makanan.

Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-
biasa
saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
pemandangan tersebut menjadi istimewa.

Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang
baru
saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang
berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah
bekas
makanan.

Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di
atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat
sampah.
Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh
tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.

Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang
berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan
sampah
berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa
makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau
dia seorang
pelayan sekalipun.

Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa
makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta
anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini
saya juga
pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan
tertawaan
teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan
pernah
ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan
Amerika,
sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah.
Pelayan
terbatas karena tenaga kerja mahal.

Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh
beberapa menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya
akan besar sekali bagi para pelayan restoran.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya
arti
besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya
membersihkan
sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di
situ.

Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang
bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan
sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada
slogan,
umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan
keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.

Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja
setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang
dijumpainya
hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum
akan
merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang
dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang.
Padahal
asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.

Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku “Chicken Soup”, saya
kerap
membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa
di
belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti
akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari
itu dia
bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya
berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.

Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang
setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang
Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut
kepada
orang-orang di sekitarnya.

Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan
kata
“terima kasih” saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang
kembalian.
Menurut dia, kata “terima kasih” merupakan “magic words” yang akan
membuat orang lain senang. Begitu juga kata “tolong” ketika kita
meminta bantuan
orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.

Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus,
mikrolet,
bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari
istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para
supir
kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. “Sementara
kamu kan tidak mengejar setoran?” Nasihat itu diperoleh istri saya
dari
sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada
kendaraan
umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat
istri tersebut.

Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat
membuat
orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati
pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari
dengan
membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah
meringankan
pekerjaan pelayan restoran.

Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah
membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan
tidak membuang
permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan
kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.

Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa
banyak di
antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika
membuka
pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga
apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat
orang yang
membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.

Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah
sekarang juga.

bersambung…

13
Nov
08

Lari Dari Masalah

pagi ini gw terhenyak melihat berita di JakTV. isi beritanya: pemerintah akan membatasi jumlah sepeda motor di jakarta. sebuah solusi instan yang sudah biasa dikeluarkan oleh pemerintah. tidak menyentuh akar masalah.

problem utama adalah warga jakarta butuh sarana transportasi yang aman, nyaman, cepat, dan murah. kalo motor dibatasi, warga akan pake sarana transportasi apa lagi? naik kendaraan umum? kendaraan umum apa? memang ada kendaraan umum di jakarta yang masih layak?

kalau saja pemerintah punya rencana/konsep yang jelas nan tegas menyangkut transportasi, pastilah warga tidak akan berhasrat punya kendaraan pribadi masing-masing. kalau saja ada sarana transportasi umum yang baik, secara otomatis warga akan beralih menggunakan transportasi umum tersebut. nggak perlu lah buat aturan-aturan aneh dan nggak jelas seperti pembatasan kendaraan, 3 in 1, car free day, giliran pelat nomer ganjil-genap, naikin tarif parkir, dll..

warga jakarta cuma butuh sarana transportasi umum yang aman, nyaman, cepat, dan murah…

02
Nov
08

Argumentasi Basi

beberapa hari lalu, gw iseng2 buka detik.com yang bagian gosip alias detikHot. Padahal gw termasuk orang yang anti sama infotainment. di dalamnya ada sebuah artikel yang memberitakan pernyataan Luna Maya tentang UU Pornografi yang baru saja disahkan oleh DPR. si Luna Maya ini bilang kalo UU Pornografi Pembodohan Untuk Masyarakat.

di artikel tersebut ada kalimat Luna Maya seperti ini: “Undang-undang pornografi itu suatu bentuk pembodohan untuk masyarakat, karena kita semua kan sebenarnya ketika lahir sudah telanjang, jadi nafsu itu nggak bisa dibatasi dengan aturan”. nah, gw bingung, kalo nafsu ngga dibatasi dengan aturan trus dibatasinya pake apa? mau diumbar gitu aja? kita memang lahir telanjang, cuma telanjang itu ngga sopan kan? bukankah setelah lahir kita trus langsung dipakein baju (sampe ada juga yang dibedong). orang tua kita juga selalu beliin kita baju. kita sendiri pun ketika dewasa pake baju buat nutupin aurat. kenapa? karena malu. disamping itu, dengan pake baju akan bisa melindungi badan kita dari pengaruh luar yang merusak seperti suhu, debu, dan kotoran.

selanjutnya ada juga penyataan si Luna Maya yang lain, yaitu: “Sekarang Jakarta kan makin panas, terus masa ada perempuan pake tanktop keluar rumah mau ditangkep, terus saudara saudara kita di Papua yang pake koteka juga ditangkepin semua,”. pernyataan si Luna Maya ini tambah aneh lagi. gila apa jalan keluar rumah di jakarta cuman pake tanktop doang? kalo siang pasti kulit akan perih nan gosong terbakar matahari yang sekarang panasnya naudzubillah… kalo malem ketemu sama orang jahat bisa jadi korban, atau kalo ketemu sama orang baik disangka perempuan ngga bener…masih untung kalo ngga ketemu tramtib. bisa langsung diciduk karena disangka PSK. masalah koteka mah cerita lama. mereka disana kan beradabannya tertinggal. istilahnya primitif. kemudian menjadi tugas kita untuk mengeluarkan mereka dari ke primitifannya itu. bukan kemudian malah dieksploitasi. atau kita malah ikut-ikutan kayak mereka yang pake baju seadanya/sekenanya. lalu apa bedanya kita sama mereka?




RSS sddq

  • sddq fiuh, akhirnya sampe ktr jg stlh dengerin 1x nidji + 2x sherinamunaf..
  • sddq @ cheese cake factory.. Who want some cakes?
  • sddq bilang semua perhatian tertuju pada drama sinetron KPK vs Polisi. ga ada yg peduli sama PLN yg semena2 mem-blackout pelanggan tanpa kompensasi.
  • sddq tes.. tes.. tes..
  • sddq Ber-weekend di bandung sama keluarga mencari suasana baru
  • sddq Kangen saat mengobrol sambil minum green tea latte..
  • sddq Hmm.. Cuma rumah gw doang yg blackout.. PLN sentimen nih...
  • sddq Sekarang semua harus pake credit card. Kalo bisa bayar tunai kenapa harus ngutang? Brengsek!!
  • sddq Can't wait to have quality time with her..
  • sddq Mario teguh punya twitter ngga ya? Ada yg tau?

Blog Stats

  • 3,076 hits