basicly, gw adalah orang yang tidak gampang menerima keadaan begitu aja. nggak ada yang nggak mungkin, semua bisa terjadi kalo kita memang ingin hal itu terjadi. setiap hal bisa dicapai, bisa diusahakan. tinggal masalah pilihan, mau nggak kita memilih hal tersebut.
termasuk didalamnya adalah jodoh, rejeki, dan mati. gw bukan tipe orang yang terlalu percaya dengan yang namanya keberuntungan. jodoh, rejeki, dan mati nggak akan datang sendiri kalo kita nggak berusaha mencapainya. istilah kerennya “menjemput”.
untuk mendapatkan rejeki, kita harus menjemputnya. caranya adalah dengan bekerja. memang tiap orang udah punya jatah rejekinya masing-masing. dan tiap orang berbeda kadarnya satu sama lain. namun bukan berarti ukurannya gak bisa bertambah. semua masih mungkin, asal mau berusaha.
masalah jodoh sebenernya adalah yang paling mudah. kuncinya adalah komitmen, dan pilihan untuk berkomitmen, serta menjaga konsistensi terhadap komitmen tersebut. jodoh juga harus dijemput, diusahakan. karena jodoh adalah pilihan juga. kalo kita udah menjatuhkan pilihan untuk berkomitmen dengan seseorang, maka bisa dikatakan kalo orang itu adalah jodoh kita. untuk menjemput jodoh adalah dengan menjaga komitmen tersebut.
mati, gimana menjemput mati? apa dengan bunuh diri? nope, salah besar kalo bunuh diri dikatakan sebagai usaha untuk menjemput mati. termasuk didalamnya adalah dengan menyakiti diri sendiri atau dzolim terhadap diri sendiri. mati itu sudah pasti datang, nggak perlu dijemput. bukan matinya yang dijemput, tapi “sesudah mati”-lah yang harus dijemput. menjemputnya adalah dengan beribadah. tentu saja…dengan apalagi kita akan menjemput mati?
tapi gw menemukan ada hal menarik tentang mati. ternyata kita bisa menangguhkan mati. dia bisa ditunda yaitu dengan cara silaturrahmi. lain kali gw akan bahas tentang masalah ini…
Allah SWT tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu mau berusaha merubah keadaan mereka sendiri.
Selamat Tahun Baru 1429 H…
ikut baca