beberapa minggu yang lalu gw dapet kiriman email yang isinya cukup menyentak hati. sebuah tulisan mengenai cinta. sebenernya gw ragu untuk mem-posting tulisan ini. tapi isinya itu lho, dalem banget…( mudah-mudahan gw ngga ngelanggar hak cipta dengan memuatnya di blog…
)
ok here goes…
‘Hierarki Kebutuhan Cinta
Oleh : Dede Farhan Aulawi
Cinta adalah samudera kehidupan menuju pulau kebahagiaan. Untuk mencapainya dibutuhkan alat berupa ilmu pengetahuan tentang cinta. Cinta adalah pengetahuan tentang hati dan perasaan,… tapi cinta juga sekaligus seni penuh keindahan,.. .yang selalu terlukis dalam kanvas penuh anugerah. Agar cinta tetap hadir memberi keharuman, maka kita harus memahami Tata Kelola Cinta yang baik ( Good Love Governance ). Di sinilah saya kan coba sampaikan, semoga bermanfaat. Saya menyebutkan “Hierarki Kebutuhan Cinta”, yaitu :
1. Cinta sebagai Sentuhan Rasa.
Pada tahap ini perasaan cinta bisa datang tiba- tiba, menyentuh dinding asa tanpa bisa mengelak. Tahapan ini biasanya masuk melalui pandangan mata. Di sini cinta bicara soal aspek fisiologis (kecantikan/ ketampanan) . Cinta ditafsirkan sebagai sarana penyaluran kebutuhan biologis.
2. Cinta sebagai Sentuhan Asa.
Pada tahap ini cinta ditafsirkan sebagai hal yang sulit dimengerti., karena pada tahap ini cinta bisa tumbuh sebelum berjumpa. Mungkin karena membaca sebuah tulisan atau mungkin hanya karena mendengar kemerduan suaranya. Di sini cinta sebagai sarana pemenuhan kebutuhan emosi.
3. Cinta sebagai Sentuhan Fikir
Setelah tahap satu dan tahap dua dicapai, maka tuntutan meningkat pada kesejalanan pola fikir. Bisa diajak diskusi, tukar pendapat, dan enak diajak bicara. Karena cinta tidak semata – mata pemenuhan kebutuhan biologis. Dalam sehari kita memiliki hak hidup 24 jam, dan dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan biologis sekita 4%. Lalu 96% untuk apa ? di sinilah setiap partner membutuhkan partner untuk diskusi….Kalau seseorang menemukan partner diskusinya di luar rumah…, maka jangan salahkan jika satu waktu rasa itu akan tumbuh di luar pagar rumahnya….
4. Cinta sebagai Sentuhan Toleran
Di sini cinta mulai membutuhkan pengertian dan perhatian yang lebih dalam, meskipun di awal perjalanan, hal inipun sudah harus ditunjukkan. Bagaimana kita bisa mengerti lebih toleran…., bagaimana kita bisa menerjemahkan bahasa perhatian lebih toleran. di sinilah toleransi sejati harus bisa dibuktikan. Tentunya dari keduabelah pihak.
5. Cinta sebagai Sentuhan Penyatuan Jiwa
Di sinilah cinta akan bicara soal kesetiaan dan pengorbanan. Cinta akan menyatu tidak hanya dari sisi fisik dan perasaan, tapi juga sudah menyatu dari sisi jiwa. setiap melihat dan merasakan ketidaksukaan dari pasangan, ia akan merasa bahwa itu bagian dari dirinya. Pasangan tidak lagi dilihat sebagai jatidiri orang lain, tapi ia akan melihat pasangannya sebagai bagian integral yang tak bisa dipisahkan. Inilah sebuah pentas toleransi dari jiwa yang suci. Pengorbanan adalah bagian yang kan selalu menghiasi setiap perjalanannya. Manis dan pahit dirasakan bersama. Setiap perbedaan tidak mengarah pada perpisahan. Tapi perbedaan selalu diterjemahkan sebagai sarana untuk saling menyempurnakan. Tidak pernah ada dalam niat dan fikirannya untuk berpisah. Apapun yang terjadi..,setiap hari akan diisi oleh kisah hidup berdua. Tidak adalagi istilah “Aku” atau “Kamu”, karena dalam kamus hidupnya hanya mengenal satu kata tentang “Kita”.’
Nah, kemudian timbul pertanyaan, sudah sampai tahap yang manakah kebutuhan cinta anda terhadap pasangan? (a simple question but hard to answer, specially for “jomblo” like me….
)